Rupiah Melemah Sentuh Rp 14.900/US$, Tak Ada Ganjar Effect?

Pekerja pusat penukaran mata uang asing menghitung uang Dollar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo di Melawai, Jakarta, Senin (4/7/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Rupiah melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Rabu (26/4/2023) setelah libur panjang Hari Raya Idul Fitri. Pelemahan rupiah terbilang wajar, sebab sebelum libur Lebaran membukukan kinerja yang impresif.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan melemah 0,2%. Depresiasi bertambah menjadi 0,4% ke Rp 14.900/US$ pada pukul 9:04 WIB.

Sebelum hari Raya Idul Fitri, tepatnya pada Jumat (21/04/2023), Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri telah resmi mengumumkan dan mengusung Ganjar Pranowo sebagai Calon Presiden (Capres) di Pemilihan Presiden 2024 mendatang.

Ganjar merupakan salah satu yang diunggulkan maju dalam pemilihan presiden. Seberapa besar dampak dipilihannya Ganjar sebagai Capres ke pasar finansial bisa terlihat pada perdagangan hari ini. Flashback ke belakang, pada 2014 saat Joko Widodo (Jokowi) diumumkan menjadi Capres, pasar finansial menyambut dengan positif.

Pasar tentunya melihat Ganjar sebagai penerus program-program Jokowi saat ini. Sehingga arah kebijakan yang diambil akan lebih jelas, ketimbang dengan Capres lainnya. Namun, dipilihnya Ganjar sebagai Capres saat ini masih belum direspon positif oleh pelaku pasar.

Rupiah sebelum libur Lebaran sempat menyentuh Rp 14.640/US$ pada Jumat (14/4/2023), yang merupakan level terkuat sejak 13 Juni 2022. Melihat penguatan tersebut, tentunya wajar terjadi koreksi.

Tren penguatan rupiah dimulai sejak Silicon Valley Bank (SVB) di Amerika Serikat kolaps. Bank sentral AS (The Fed) yang sebelumnya diprediksi akan kembali agresif menaikkan suku bunga akhirnya menunjukkan sinyal akan segera mencapai terminal rate.

Bahkan, pasar memprediksi ada peluang The Fed akan memangkas suku bunganya tahun ini. Dolar AS pun tertekan, dan rupiah bisa terus melenggang.

Apalagi, aliran modal asing pun kembali berbalik arah. Sebelum SVB kolaps pada 10 Maret lalu, sebenarnya terjadi capital outflow sepanjang hingga Rp 8 triliun sejak akhir Februari, berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR).

Pada Februari, capital outflow juga tercatat sekitar Rp 7,6 triliun. Namun, arah angin berbalik sejak SVB kolaps, sepanjang Maret malah terjadi inflow lebih dari Rp 14 triliun. Aliran modal tersebut masih berlanjut, sepanjang bulan ini hingga 12 April terjadi inflow sebesar Rp 1,7 triliun.

Kabar bak pun masih terus berlanjut. Operasi moneter Term Deposit Valas Devisa Hasil Ekspor (DHE) Bank Indonesia (BI) yang mulai menarik tenor jangka panjang. Artinya, dolar AS para eksportir disimpan lebih lama di dalam negeri, yang tentunya bisa menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Sementara itu dari eksternal, Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen kembali memperingatkan bahwa kegagalan Kongres untuk menaikkan pagu utang pemerintah yang bisa menyebabkan gagal bayar akan memicu “malapetaka ekonomi” yang akan membuat suku bunga lebih tinggi untuk tahun-tahun mendatang.

Yellen sudah berulang kali mengungkapkan hal tersebut. Sepanjang sejarah, Amerika Serikat tidak pernah mengalami default, jika itu sampai terjadi tentunya akan memicu gejolak di pasar finansial global. Rupiah sebagai mata uang emerging market tentunya kurang diuntungkan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*