Pidato Powell Bikin Ketar-ketir, Pasar Keuangan RI Siaga Satu

Federal Reserve Chairman Jerome Powell holds a press conference following a two day Federal Open Market Committee policy meeting in Washington, U.S., January 30, 2019. REUTERS/Leah Millis

Pasar keuangan kembali mencatatkan kinerja yang mengecewakan pada perdagangan kemarin Selasa (7/3/2023) di tengah penantian investor terkait ‘sabda’ Powell alias pejabat The Fed. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali merana 3 hari beruntun dan rupiah mengambil langkah yang sama.

Dari sisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan di zona merah dengan koreksi 0,59% ke 6.766,76 pada penutupan perdagangan kemarin. Dengan ini indeks sudah turun dan berada di level psikologisnya 6.700-an.

Sebanyak 370 saham melemah, hanya 159 saham mengalami kenaikan dan 208 lainnya tidak berubah. Perdagangan menunjukkan nilai transaksi sekitar Rp9,12 triliun dengan melibatkan16,24miliar saham.

Pada perdagangan kemarin, asing melakukan aksi jual (net sell) mencapai Rp 197,93 miliar di pasar reguler. Hampir seluruh sektor melemah. Sektor industri menjadi sektor yang paling merugikan indeks dengan penurunan 1,77%. Sebaliknya, sektor finansial terpantau menjadi satu-satunya penahan koreksi menguat 0,15%.

Dari pasar keuangan lain Rupiah kembali tak berdaya di hadapan dolar AS. Pada perdagangan kemarin, rupiah ditutup diposisi Rp 15.345/US$1. Mata uang Garuda melemah 0,36%.

Pelemahan rupiah didorong karena risk off sementara investor. Pelaku pasar juga menunggu dengan was-was testimoni Chairman bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell di hadapan senat AS.

Pelaku pasar kini berekspektasi jika The Fed akan kembali agresif menaikkan suku bunga acuannya. Sebabnya, pasar tenaga kerja yang kuat, ditambah lagi inflasi kembali naik.

Tiga indeks utama Wall Street berakhir ‘berdarah-darah’ pada perdagangan Selasa (7/3/2023) waktu New York. Saham dijual dengan tajam pada pasca komentar dari Ketua Federal Reserve Jerome Powell menyarankan bahwa suku bunga mungkin perlu naik lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama dan memicu kekhawatiran akan potensi kenaikan yang lebih besar pada pertemuan kebijakan bank sentral berikutnya.

Dow Jones Industrial Average turun 574,98 poin, atau 1,72%, menjadi berakhir pada 32.856,46, S&P 500 turun 1,53% menjadi ditutup pada 3.986,37 dan di bawah level 4.000, sementara Nasdaq Composite turun 1,25% menjadi menetap di 11.530,33.

Saat indeks saham utama turun, imbal hasil Treasury 2 tahun melonjak ke level tertinggi sejak 2007 sebesar 5%. Aksi jual hari Selasa membawa Dow ke wilayah negatif untuk tahun 2023, turun sekitar 0,9%. S&P dan Nasdaq masing-masing naik sekitar 3,8% dan 10,2%, untuk tahun ini.

“Data ekonomi terbaru datang lebih kuat dari yang diharapkan, yang menunjukkan bahwa tingkat suku bunga akhir kemungkinan akan lebih tinggi dari yang diantisipasi sebelumnya,” kata Powell dalam sambutannya kepada Komite Urusan Perbankan, Perumahan dan Perkotaan Senat Selasa pagi. “Jika totalitas data menunjukkan bahwa pengetatan yang lebih cepat diperlukan, kami akan siap untuk meningkatkan laju kenaikan suku bunga.”

Komentar tersebut mengindikasikan bahwa Fed dapat mempertimbangkan kenaikan suku bunga yang lebih besar dari kenaikan 25 basis poin bulan lalu pada pertemuan kebijakan berikutnya pada 21-22 Maret.

“Mereka juga mengisyaratkan potensi kembalinya kenaikan suku bunga setengah poin pada pertemuan pada bulan Maret, tergantung pada kekuatan data ekonomi yang masuk,” menurut Morgan Stanley dikutip CNBC International.

Pada perdagangan semalam, saham bank memimpin kerugian karena investor khawatir kenaikan suku bunga lebih lanjut akan mendorong ekonomi ke dalam resesi.

Wells Fargo kehilangan 4,7%. Bank of America, Goldman Sachs dan JPMorgan Chase masing-masing kehilangan sekitar 3%. Saham teknologi besar juga jatuh, dengan Apple, Alphabet, dan Microsoft masing-masing jatuh setidaknya 1%.

Menurut survei Dow Jones, komentar Powell menaikkan pertaruhan untuk laporan pekerjaan Februari yang keluar Jumat pagi, yang dapat menunjukkan pasar tenaga kerja yang tangguh yang memungkinkan Fed untuk terus mendaki. Ekonom mengharapkan 225.000 pekerjaan ditambahkan bulan Januari.

Wall Street yang ditutup ‘berdarah-darah’ pada perdagangan Selasa (7/3/2023) Waktu New York tentunya membuka peluang perlemahan IHSG pada hari ini. Sentimen pasar utama masih diselimuti oleh implikasi atas pengumuman sejumlah data ekonomi, terlebih pada suku bunga The Fed.

Suku Bunga dan kebijakan The Fed adalah sentimen utama investor pekan ini. Hari ini, Powell

The Fed telah menaikkan suku bunga acuannya 8 kali selama setahun terakhir, yang terbaru adalah kenaikan seperempat poin persentase awal bulan lalu yang membawa suku bunga pinjaman semalam ke kisaran target 4,5%-4,75%.

Pasar juga terpecah antara menginginkan The Fed menurunkan inflasi, kendati demikian rasa khawatir juga muncul penurunan bakal berlebihan sehingga menyebabkan tekanan ekonomi yang terus berlanjut.

Ketua Federal Reserve Jerome Powell memperingatkan bahwa suku bunga kemungkinan akan lebih tinggi dari yang diperkirakan oleh pembuat kebijakan bank sentral.

Mengutip data awal tahun ini yang menunjukkan bahwa inflasi telah membalikkan perlambatan yang ditunjukkan pada akhir 2022, pemimpin bank sentral tersebut memperingatkan kebijakan moneter yang lebih ketat ke depan untuk memperlambat pertumbuhan ekonomi.

“Data ekonomi terbaru datang lebih kuat dari yang diharapkan, ini menunjukkan bahwa tingkat suku bunga akhir kemungkinan akan lebih tinggi dari yang diantisipasi sebelumnya,” kata Powell dalam sambutannya yang disiapkan untuk dua penampilan minggu ini di Capitol Hill.

“Jika totalitas data menunjukkan bahwa pengetatan yang lebih cepat diperlukan, kami akan siap untuk meningkatkan laju kenaikan suku bunga.” Tambahnya.

Pernyataan tersebut membawa 2 implikasi, pertama, bahwa puncak atau terminal tingkat suku bunga The Fed kemungkinan akan lebih tinggi dari indikasi sebelumnya dari pejabat Fed. Kedua, bahwa peralihan bulan lalu ke seperempat persentase yang lebih kecil pada suku bunga diramal bakal berumur pendek jika data inflasi terus memanas.

Pasar kini melihat suku bunga The Fed bisa mencapai 5,5% – 5,75% pada Juli nanti, naik 100 basis poin dari level saat ini dan lebih tinggi ketimbang proyeksi yang diberikan bank sentral AS tersebut 5% – 5,25%.

Pidato tersebut disampaikan dengan pasar yang umumnya optimis bahwa bank sentral dapat menjinakkan inflasi tanpa membuat perekonomian jatuh.

Saham turun tajam sementara imbal hasil Treasury melonjak setelah pernyataan Powell dirilis. Penetapan harga pasar juga sangat membatasi kemungkinan kuat kenaikan suku bunga 0,5 poin persentase ketika pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal pada 21-22 Maret.

Pelaku pasar juga sangat menantikan laporan ketenagakerjaan AS bulan Februari yang akan dirilis pada hari Jumat.

Penambahan tenaga kerja baru yang mencapai 517.000 pada Februari dikhawatirkan mendorong kembali inflasi. The Fed pun bisa saja kembali menaikkan suku bunga nya secara agresif mencapai 4,75% – 5%. Ini merupakan kenaikan suku bunga terbesar sejak 40 tahun lalu bagi negeri Paman Sam.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2023 mencapai 140,3 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan dengan posisi pada akhir Januari 2023 sebesar 139,4 miliar dolar AS.

Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan peningkatan posisi cadangan devisa pada Februari 2023 antara lain dipengaruhi oleh penerimaan pajak serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah.

“Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor atau 6,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor,” tegas Erwin, Selasa (7/3/2023).

BI menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Ke depan, BI memandang cadangan devisa tetap memadai, didukung oleh stabilitas dan prospek ekonomi yang terjaga, seiring dengan berbagai respons kebijakan dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan guna mendukung proses pemulihan ekonomi nasional.

Selain itu, investor menanti data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia yang akan memberikan sinyal seberapa kuat ekonomi kita saat ini. Untuk diketahui, IKK Indonesia naik menjadi 123,0 pada Januari 2023. Angka ini sudah naik dari 119,9 pada Desember 2022, menunjukkan level tertinggi sejak Agustus tahun lalu, didorong oleh inflasi yang semakin mereda.

Terakhir, hari ini investor dapat mencerna sejumlah data ekonomi global penting, mulai dari data pinjaman bank, data tenaga kerja Jerman, dan PDB zona Eropa. Jadwal rilis data ekonomi ada pada halaman berikutnya.

Berikut beberapa agenda penting terkait data ekonomi yang akan rilis hari ini:

Data Perubahan Kredit Konsumen AS (03:00)

Perubahan Stok Minyak Mentah API (04:30)

Pidato pejabat RBA Gov Lowe (04:55)

Data pinjaman bank Jepang (05:60)

Data Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia (10:00)

Data produksi industri, penjualan retail Jerman (02:00)

Data angkatan kerja Zona Eropa (05:00)

Pertumbuhan ekonomi Zona Eropa (05:00)

Pidato 2 pejabat ECB (05:00)

Perubahan Ketenagakerjaan ADP Amerika Serikat (08:15)

Data neraca perdagangan, ekspor, impor AS (08:30)

Data perubahan stok minyak EIA (10:30)

Selain itu, hari ini setidaknya ada beberapa agenda korporasi, diantaranya:

Rapat Umum Pemegang saham Luar Biasa (RUPSLB) CASH (10:00), Pencatatan Perdana Saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (kode saham: CUAN), PT Saptausaha Gemilangindah Tbk (kode saham: SAGE) dan PT Teknologi Karya Digital Nusa Tbk (kode saham: TRON), sebagai Perusahaan Tercatat ke-24, 25, dan 26 di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2023 (08:30 WIB), Paparan Kinerja XL Axata & Outlook 2023 (10:30 WIB).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*