Nah Lho! Ada Campur Tangan AS di Proyek KF21 RI-Korsel

Pesawat Jet KF-X (Korea Aero)

Di balik megaproyek jet tempur KF 21 Boromae antara Indonesia dan Korea Selatan yang tengah berjalan sejak 2010 hingga saat ini, ternyata ada ‘campur tangan’ Amerika Serikat (AS).

Pasalnya, di dalam proyek pesawat siluman ini, pihak Korea mendapatkan teknologi dari Amerika Serikat (AS). Namun, Indonesia sebagai partner dari pengembangan jet tempur ini tidak mendapatkan seluruh teknologi tersebut.

Sekjen Kemhan periode 2010-2013 Marsekal (Purn) Eris Heryanto mengatakan ada 129 teknologi kunci dalam pengembangan jet tempur canggih ini dan Indonesia hanya mendapatkan 120 teknologi.

“Ada 129 teknologi kunci, sementara pihak Amerika tidak memberikan 4 teknologi kunci kepada siapapun, sedangkan ke Indonesia 9 teknologi tidak diberikan,” kata Eris.

Eris pun mengemukakan masalah lain yang sangat krusial, yakni pemerintah AS tidak memberikan export license kepada Indonesia dalam bentuk LRU/komponen subsistem atau teknologi-teknologi yang lain.

“Padahal LRU dan teknologi-teknologi yang lain sudah mulai digunakan di prototipe (KF 21 Boromae). Ini yang membuat hambatan Indonesia kerja sama dengan Korea.

Eris menegaskan Korea sendiri sudah memberikan kemudahan bahwa nantinya teknologi-teknologi ini akan secara bertahap diberikan kepada Indonesia.

“Tetapi apakah tetap komitmen diberikan sampai dengan berakhirnya EMD phase, kita liat. Ini bicara mengenai teknologi,” ujarnya.

Eris sendiri sangat menyayangkan karena Indonesia tidak bisa melakukan ekspor pesawat jet tempur ini, karena tidak memiliki lisensi ekspor atau export license. Pasalnya, pangsa ekspor jet tempur ini cukup besar, menurut kajian awal.

Brigadir Jenderal (Purn) Jung Kwang Sung, yang menjabat sebagai First Director General for KF-X Program Group at the Defense Acguisition Program Administration (DAPA), mengungkapkan bahwa pihak Korea dan Indonesia masih terus mengupayakan lobi-lobi dengan AS untuk mendapatkan lisensi ekspor.

Sementara itu, dia menuturkan Korea Selatan juga mempertimbangkan banyak hal untuk mencari solusi bagaimana bisa melakukan transfer teknologi ke Indonesia.

“Pemerintah Korea dengan Indonesia sudah memiliki kesepahaman supaya Indonesia bisa memiliki teknologi yang diinginkan, caranya tidak memberikan secara langsung tapi Korea bisa memberikan pengalaman melalui beberapa sejumlah pendidikan, training, seminar, on the job training supaya Indonesia bisa memiliki pengalaman untuk menguasai teknologi,” paparnya dalam workshop FPCI.

Menurutnya, hal ini sudah disepakati antara PT Korea Aerospace Industries (KAI) dan pemerintah Korea Selatan. Dia menegaskan pihaknya sedang menanti proses ini.

Saat ini, dia memastikan bahwa proyek KF-X atau KF-21 tetap berjalan dan tidak pernah tertunda, meskipun kondisi ekonomi dunia mengalami tekanan.

“Saya juga melihat ke depan program ini berjalan dengan baik, tidak ada potensi tertunda lagi dan kami berharap pemerintah Indonesia lebih banyak mengirim para teknisi ke Korea Selatan sehingga mereka bisa mengejar ketertinggalan yang selama ini terjadi dan ada partisipasi yang lebih intensif dari tim engineer Indonesia,” tegasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*