Mendadak Warga di IKN Tajir Melintir, Duitnya Borong Truk

warga Desa Bumi Harapan menjual asetnya untuk IKN dan jadi modal beli truk angkut bahan material proyek IKN (Foto : Ifantri, salah satu warga Desa Bumi Harapan)

Kehidupan masyarakat di sekitar proyek Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara benar-benar berubah. Mereka menjadi kaya raya, dari sebelumnya hidup pas-pasan.

Salah satu fenomena tersebut ada di Desa Bumi Harapan Kecamatan Sepaku Kabupaten Penajem Paser Utara Kalimantan Timur. Desa Bumi Harapan berlokasi di Ring 1, cukup dekat dengan titik 0 IKN.

Salah satu masyarakat Desa Bumi Harapan, Ifantri, menceritakan efek proyek IKN yang mengubah kehidupan di daerahnya. Masyarakat yang awalnya hanya petani sawah dan kebun sawit serta pemilik warung kini menjadi kaya raya mendadak alias tajir melintir.

Mereka menjual tanah yang dimilikinya dengan harga tinggi. Hasil penjualan tanah tersebut mereka belikan truk yang digunakan untuk pengangkutan material proyek IKN. Beberapa masyarakat bahkan menjadi juragan material untuk proyek infrastruktur IKN.

“Rata-rata hasil penjualan tanah dan bangunan mereka belikan truk untuk pengangkutan material proyek pembangunan IKN. Masyarakat di sini makin terbantu dan jadi ramai. Kita support juga untuk kebutuhan material,” ungkap Ifantri kepada CNBC Indonesia, Selasa (17/1/2023).

Hasil penjualan tanah juga masyarakat gunakan untuk membeli aset di luar desa. Mereka yang punya tanah cukup banyak juga membangun rumah lagi yang nantinya disewa oleh para pendatang.

“Jadi rumah itu kita sewakan Rp 180 juta per tahun,” katanya.

Ifantri menjelaskan harga tanah di Desa Bumi Harapan memang naik gila-gilaan. Rata-rata harga tanah di sini sudah Rp 1,5 juta per meter persegi.

Tak mau kalah dengan masyarakat lainnya, Ifantri juga menjual tanah dan bangunan miliknya. Bangunan yang dia jual luasnya 92 meter persegi dengan memiliki 3 kamar dan luas tanah 1.900 meter persegi.

“Awalnya saya lepas dengan harga Rp 3,8 miliar, sekarang harga naik jadi Rp 4,5 miliar. Kemarin ada yang nawar Rp 3,5 miliar saya belum lepas,” ucapnya.

Soal tingginya kenaikan harga tanah di sana tidak ada patokan, atau spekulatif. Meski harganya tidak masuk akal, peminatnya banyak. Ifantri menyebut pembeli datang dari berbagai wilayah di Indonesia, paling banyak orang Jawa dan Sumatra.

“Rata-rata orang luar (yang beli) kebanyakan dari Jawa, Lampung, dan Jambi. Mereka beli tanah kebanyakan buat usaha, ada juga yang bangun rumah pribadi, ada yang buat hotel,” sebutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*