Cerita di Korea: Nenek Hijrah ke AS, Cucu Ramai Balik Kampung

A man walks on a street in the Gangnam district of Seoul on September 16, 2021. (Photo by Anthony WALLACE / AFP) (Photo by ANTHONY WALLACE/AFP via Getty Images)

Sejak beberapa dekade yang lalu, terjadi gelombang perpindahan warga asal Korea yang hijrah ke Amerika Serikat (AS). Imigrasi oleh “nenek moyang” ini terjadi pada tahun 1903-1965, yang menghasilkan asal-muasal adanya keturunan Korea-Amerika.

Namun kini, para “cucu” tersebut justru kebanyakan memilih untuk kembali pulang ke Korea Selatan (Korsel). Ada apa?

Dilansir dari CNN Travel, Kevin Lambert, pria yang tumbuh di North Carolina, mengatakan salah satu alasan dari banyak orang Asia-Amerika yang lahir atau besar di Paman Sam karena orang https://188.116.26.232/ tuanya meninggalkan Korsel pasca perang. Mereka, ujarnya, ingin mengejar “American Dream”.

Namun kenyataannya, Kevin selalu merasa berbeda dari rekan kulit putihnya, lantaran fitur Korea yang diwarisi dari ibunya sangat menonjol. Sehingga dia “selalu merasa dikucilkan”.

“Sepanjang masa kecil saya, di tahun 80-an dan 90-an, yang saya dapatkan hanyalah: ‘Hei, apakah kamu orang Tionghoa? Apakah kamu tahu kungfu?'” katanya, dikutip Selasa (16/5/2023).

Perasaan tidak nyaman ini bertahan hingga dewasa. Hal itu kemudian mendorongnya untuk pindah ke Korsel pada tahun 2009, berharap menemukan potongan teka-teki yang hilang di hidupnya.

Hal yang sama dirasakan oleh Stephen Cho Suh, seorang asisten profesor program studi Amerika Asia di San Diego State University. Ia mengaku kerap mendapat diskriminasi rasial di AS.

Ia menyebut, tidak akan mempertimbangkan kembali ke Korsel apabila diterima dengan penuh oleh lingkungannya di AS. Tapi nyatanya tidak.

Dalam studi kecilnya, Suh, juga menemukan masalah ini. Saat mewawancarai lebih dari 70 orang sebagai bagian dari penelitiannya tentang migrasi balik, semua orang menyebut ras, rasisme, etnis, sebagai dasar pertimbangan.

Sebenarnya, berbagai faktor berperan penting dalam mendorong imigrasi kembali dari AS ke Korea Selatan. Bukan hanya rasial tapi aturan yang memudahkan dan krisis ekonomi.

Disahkannya undang-undang di Korsel pada tahun 1999 yang membuka pintu bagi “warga Korea perantauan” kembali menjadi alasan. Ini memudahkan mereka “pulang kampung” dan tinggal lebih lama karena sejumlah hal.

Pada Piala Dunia FIFA 2002, yang diselenggarakan oleh Korsel dan Jepang misalnya. Atau saat Resesi Hebat dari 2007 hingga 2009 di AS, ketika banyak perante mengambil pekerjaan mengajar bahasa Inggris di sekolah-sekolah Korsel untuk menghindari pasar kerja AS yang “mengerikan”.

Meski begitu, memang kehidupan di Korsel tetap membawa tantangannya sendiri. Ini pun membuat banyak yang akhirnya juga, memutuskan kembali ke AS.

Daniel Oh, juga menjelaskan kepulangannya ke Korea. Ia diketahui bermigrasi ke Kanada saat kecil, namun rasisme juga manjadi kenyataan sehari-hari di sana.

“Begitu banyak kejadian di mana saya merasa malu menjadi seorang imigran,” kata pria 32 tahun itu.

Ketika dia mulai mengunjungi Korsel di usia 20-an, negara kelahirannya telah berubah secara dramatis dari yang dia ingat. Dia tidak sepenuhnya nyaman berbicara bahasa Korea.

“Namun, di satu sisi, itu (memang) terasa seperti rumah,” katanya.

“Hal-hal yang membuatnya berbeda… bagian dari kepribadian dan tingkah lakunya, rasa identitasnya, lebih masuk akal ketika saya kembali ke Korea,” tambahnya.

Ia pun memutuskan pindah ke Seoul sejak 24 tahun. Kini, ia sudah menetap selama delapan tahun terakhir.

“Banyak imigran menikmati ‘fase bulan madu’ ketika mereka senang berbaur dengan kerumunan orang Korea dan rasa memiliki,” tamah Direktur Carolina Asia Center, University of North Carolina di Chapel Hill. Ji-Yeon O.

Selain itu, beberapa orang juga mendapat ketenaran dengan kembali ke Korsel. Ini terlihat dari beberapa musisi Korea-Amerika yang menemukan popularitas di industri K-pop Korsel.

Sebut saja, Tiffany, Jessica dan Sunny dari Girls’ Generation, lalu solois Eric Nam dan Jessi. Ini juga menjadi alasan lain mereka akhirnya kembali.

“Ada beberapa bintang pop Korea-Amerika yang memiliki ketenaran yang setara di AS, ” kata Jo.

Sampai Mati di Korea

Kembali ke ternyata tak hanya dilakukan generasi muda. Generasi tua juga melakukan itu.

Kim Moon-kuk, 72, berimigrasi dari Seoul ke Los Angeles pada tahun 1985 bersama istri dan dua anaknya. Dia menjalankan beberapa bisnis selama beberapa dekade, termasuk restoran, pasar loak, toko emas dan perak, dan pabrik jahit.

Namun, dia dan istrinya pindah kembali ke Korsel pada tahun 2020. Mereka menetap di kota utara Chuncheon.

Dia mengatakan banyak manfaat yang didapatkan. Perawatan kesehatan yang terjangkau, kemudahan berkomunikasi dalam bahasa Korea dan kedekatan dengan keluarga.

“Baru-baru ini, kehidupan orang Asia menjadi sulit selama era Trump, dengan mantan presiden itu berulang kali menyebut Covid-19 sebagai ‘virus China’ dan ‘kung flu’,” jelasnya.

Hal ini menjadikan laporan insiden kebencian anti-Asia melonjak. Bagi Kim, ia merasa lega bisa kembali ke Korsel, di mana keamanannya 100% lebih baik.

“Saya berencana untuk hidup (di Korea Selatan) sampai saya mati,” tegasnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*