Asing Diam-diam Lego Saham Konglomerat Ini, Ada Apa?

Ilustrasi Bursa (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Sejumlah saham milik konglomerat dilego investor asing selama sepekan lalu. Padahal, secara umum, aliran dana asing (net buy) lumayan deras masuk ke bursa saham RI pada periode yang sama.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), selama periode 11-18 April 2023, atau sebelum 5 hari libur lebaran, net buy asing mencapai Rp4,64 triliun di pasar reguler. IHSG sendiri naik tipis 0,34% dalam periode yang sama.

Sementara, nama-nama emiten besar mulai dari tambang hingga media malah dilepas asing.

Saham emiten batu bara PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) menjadi yang paling banyak dijual asing selama periode di atas.

Nilai penjualan bersih asing (net sell) mencapai Rp120,5 miliar. Seiring dengan itu, harga saham emiten yang dikendalikan pengusaha Garibaldi Thohir bersama duo Edwin Soryadjaya-Sandiaga Uno dan keluarga TP Rachmat tersebut turun 1,64% dalam sepekan.

Di bawah ADRO, saham tambang dan alat berat milik grup konglomerat Astra PT United Tractors Tbk (UNTR) mengalami net sell asing Rp71,9 miliar.

Kendati demikian, harga saham emiten yang akan cum dividen (batas akhir investor bisa menerima dividen) pada Kamis besok (27/4) tersebut menguat 2,22%.

Bisa jadi efek permintaan investor domestik terhadap saham UNTR di tengah dividen jumbo perusahaan turut mendorong harga saham tersebut.

Informasi saja, UNTR akan membagikan dividen final sebesar Rp 6.185 per saham atau senilai Rp 22,5 triliun. Hal tersebut telah disepakati dalam Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST).

Sehingga, secara keseluruhan total dividen UNTR selama 2022 menjadi Rp 7.003 per saham atau senilai Rp 25,5 triliun. Jumlah tersebut termasuk di dalamnya dividen interim sebesar Rp818 per saham atau seluruhnya berjumlah Rp3 triliun yang telah dibayarkan pada 24 Oktober 2022.

Adapun dividen tersebut akan dibayarkan kepada para pemegang saham pada 12 Mei 2023.

Mengutip laporan keuangannya, laba bersih sepanjang 2022 UNTR meroket 104,34% menjadi Rp 21 triliun dari tahun 2021 yang sebesar Rp 10,2 triliun.

Saham lainnya, bank digital PT Bank Jago Tbk (ARTO) juga mencatatkan net sell Rp51 miliar dan harga sahamnya anjlok 11,06% dalam periode yang sama.

Secara umum, saham ARTO memang dalam tren menurun (downtrend) usai sempat menembus Rp19.000/saham pada awal 2022. Sejak saat itu, harga saham ARTO sudah anjlok 89% ke posisi Rp2.090/saham per 18 April 2023.

Saham Grup Saratoga (SRTG) milik Edwin-Sandi Uno juga dilepas asing sebesar Rp31,1 miliar. Harga saham SRTG pun merosot 3,66%.

Saham emiten kilang LPG dan pabrik amoniak PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA) juga anjlok hingga 22,58% selama 11-18 April 2023 di tengah net sell asing Rp28,6 miliar.

Hari ini, pasar keuangan RI dibuka kembali usai libur Idulfitri selama 5 hari.

Untuk itu, investor patut mencermati sejumlah sentimen untuk perdagangan pekan ini.

Sentimen luar negeri akan datang dari rilis beberapa data ekonomi AS.
Pada Kamis pekan ini, AS akan merilis data pertumbuhan ekonomi kuartal I serta klaim pengangguran.

Setelah tumbuh 2,9% pada kuartal IV-2022, ekonomi AS diperkirakan akan melandai atau bahkan terkontraksi pada kuartal I-2023 akibat kenaikan suku bunga.

Sementara itu, klaim pengangguran diperkirakan meningkat menjadi 280.000 pada pekan yang berakhir pada 22 April, dari 245.000 pada pekan sebelumnya.

Pada Jumat, AS juga akan merilis data pengeluaran individu konsumen untuk Maret serta indeks kepercayaan konsumen April.

Dua data ini sangat penting bagi The Fed dalam mempertimbangkan kebijakan moneternya pada pekan depan.

Jumat pekan ini, bank sentral Jepang (BoJ) juga akan mengumumkan kebijakan moneter mereka. Menarik ditunggu apakah BoJ akan tetap mempertahankan suku bunga ultra rendah mereka di tengah lonjakan inflasi Jepang.

Pengeluaran konsumsi individu AS diperkirakan turun ke 4,5% (yoy) pada Maret 2023, dari 5% pada Februari.

Jika pengeluaran terus menurun maka ada harapan inflasi AS juga terus melandai sehingga The Fed akan segera melunak.

The Fed sendiri kini tengah dalam fase “blackout period” di mana tidak akan ada pernyataan apapun dari bank sentral AS menjelang rapat FOMC pada 2-3 Mei mendatang.

Investor global masih akan menyimak laporan keuangan perusahaan Wall Street. Ini karena 35% perusahaan di S&P 500 akan melaporkan kinerja, termasuk raksasa macam Microsoft, Alphabet, hingga Amazon.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*